MENCARI KEBERKAHAN
Rinai hujan menyirami sebagian bumi
dengan ditemani
angin sepoi-sepoi yang menusuk tulang rusuk setiap insan yang merasakannya,
tepatnya ketika aku dan teman-teman sedang melaksanakan Goes To Campus1 (GTC). Di tanah Semarang
inilah kami menyapa beberapa kampus ternama di Indonesia, ketika kami sedang
berkunjung ke tempat bersejarah yang pernah menjadi tujuh keajaiban dunia, Candi
Borobudur, Magelang.
Payung -payung terbuka lebar, berbagai warna dan corak mewarnai keindahan
tempat yang indah ini, para penjual sewa payung telah bertengger di tempat ketika
kami mulai memasuki area bibir luar Candi, terdengar samar-samar suara para
penjual aneka buah tangan mulai dari makanan, souvenir, hingga pakaian yang tentu terdapat di setiap tempat
kunjungan. Kami asyik bercanda ria, saling bertukar candaan, ada pula yang
sedang mememorikan kejadian ini dengan memotret diri mereka di berbagai tempat.
Kami berpencar menjadi beberapa
kelompok mengelilingi megahnya tempat bersejarah ini.
“Masya Allah, indahnya tempat
ini, ditambah rintik hujan yang menambah keindahannya.” pujiku dalam hati,
senyum pun mengembang di bibirku.
Waktu berlalu begitu cepat sampai
langit menandakan bahwa senja akan datang beberapa saat lagi, pembimbing sudah
mengarahkan kami untuk menuju bus masing-masing, tetapi sebelum itu kami pun
membeli beberapa buah tangan yang berjajar di sepanjang menuju pintu keluar.
Aku memutuskan memisahkan diri untuk membeli buah tangan.
Ku mencari ke setiap sudut tempat,
namun nihil tak ada yang ku sukai,
“Mungkin di
tempat lain saja membeli oleh-olehnya” keluhku.
Aku
berjalan santai, sampai di sudut terakhir sebelum pintu keluar, situasi memang
sudah tidak ada penjual, tapi pandanganku teralihkan menuju seorang anak kecil
perempuan yang seorang diri sedang berjongkok sembari menunggu dagangannya
sebuah gantungan kunci, sungguh miris melihatnya dengan pakaian lesu yang ia
kenakan, aku menghampirinya, pandangannya kosong, hingga ia tersadar ada aku di
sampingnya.
“Assalamualaikum,
kakak mau beli yang mana?” tanya anak kecil itu dengan senyuman yang mengembang
lebar.
Namun, bukannya
menjawab tawaran yang ia tanyakan, melainkan aku menanyakan sesuatu yang membuat hatinya rintih.
“Waalaikumussalam
dik, ibu kamu di mana?” tanyaku.
Ia mulai
meneteskan air matanya, sungguh pilu ku melihatnya.
“Ibu saya ada di rumah ka, beliau sakit
parah sehingga tidak bisa berdagang, jadi aku yang menggantikannya untuk
mencari penghasilan, agar ibu bisa berobat,” papar ia, ku lihat air mata
membendung tak tertahankan di bawah pelupuk matanya.
“Tapi dik,
ayah kamu tidak ikut membantu?” tanyaku penasaran.
Belum anak
kecil itu menjawab, hujan mulai menderas mengguyur kami berdua, beberapa
temanku telah masuk ke dalam bus tapi ada pula yang masih asyik memilih buah
tangan.
“Ayahku
sudah tiada sejak aku bayi, ibu yang membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan
kami.” jawab ia, air mata sudah menderas di pipinya namun luput karena air hujan
yang membasahinya.
Aku terisak menahan air mata yang
sudah terkumpul di pelupuk mata, kemudian ku peluk ia dengan erat, hujan telah
membasahi tubuh kami, dengan
kasih yang ku haturkan, ia kembali membaik, akhirnya sebelumku beranjak pergi
menuju bus, aku beli dagangannya dengan sisa uang sakuku, sebagai tanda kasih
dari ku terhadapnya.
“Alhamdulillah,
terima kasih ya Allah, terima kasih ka.” ucap ia dengan senyum siput.
Leganya hatiku karena telah meringankan bebannya.
“Ya Allah,
banyak orang yang tengah kesusahan menjalani pahitnya kehidupan, dengan sekuat
tenaga mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga, syukurku haturkan
kepadamu ya Allah, telah memberikan rezeki yang cukup kepada orang tuaku
sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hariku, syukron2 ya Allah.” doaku
dalam hati, seraya meninggalkan anak kecil itu dan segera menuju bus.
Nikmat
sungguh besar darimu ya Allah, hujan yang membasahi bumimu ini semoga menjadi
keberkahan untuk kami semua. Aamiin ya robbal ‘alamiin.
1: Kegiatan kunjungan ke kampus.
2: Terima kasih.

Comments
Post a Comment