MALAIKAT TANPA TANDA JASA




Kisah ini berawal semenjak ibuku sudah tiada sejak lima tahun yang lalu, ia didiagnosis mengidap penyakit kencing manis oleh dokter, bapak yang hanya seorang diri, bekerja sebagai pedagang, membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dan memenuhi biaya sekolahku.
Namaku Sofia, aku yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP) belum bisa berbuat banyak. Sebentar lagi aku akan mengakhiri masa SMP ku dan beranjak ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Tentu banyak keperluan yang harus dipersiapkan, mulai dari biaya pendaftaran, seragam, buku dan uang jajan serta kebutuhan lainnya.
Akhirnya, aku pun berpikir di dalam hatiku, “Bagaimana caranya agar aku bisa membantu bapak?” lirihku.
Terbesit dalam pikiranku, “Apakah aku harus mengakhiri pendidikanku ini?” sambil mataku berkaca-kaca.
Keesokan sorenya tepat pukul tiga sore, selepas aku pulang dari sekolah. Aku melihat bapak sedang beristirahat duduk di kursi sembari meminum kopi dan mengipas-ngipas dirinya yang penuh dengan keringat sehabis pulang bekerja dari Pasar. Aku pun menghampiri bapak seraya duduk di sampingnya, hening mengitari antara aku dengannya. Lalu aku teringat ideku kemarin dan mencoba menawarkan perlahan-lahan kepada bapak, namun ia langsung membentak.
“Jangan, kamu harus tetap Sekolah, tidak boleh berhenti bagaimanapun keadaan ekonomi kita, kamu adalah satu-satunya anak bapak, nak.” Bentak bapak.
“Tapi pak, aku sangat kasihan melihat bapak yang setiap hari bekerja keras untuk semua ini. Aku ingin membantu dan tidak ingin lagi merepotkan bapak.” lirihku.
“Jangan nak, soal itu tidak perlu kamu pikirkan. Lanjutkan saja pendidikanmu dan rajinlah belajar, agar cita-cita serta keinginanmu tercapai, dan jangan seperti bapak, selagi kamu masih diberi rezeki untuk melanjutkan sekolahmu lanjutkan saja nak, kamu harus ingat, menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap orang islam, hingga di dalam Al-Qur’an telah dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa ta’alla akan mengangkat derajat orang yang berilmu.” tutur nasihat bapak.
“Masya Allah baik pak, pak aku ingin bertanya tentang keutamaan dalam menunutut ilmu, apa saja pak?” tanyaku.
“Iya nak, dalam menuntut ilmu mempunyai keutamaan, yang pertama, tentu ilmu kita akan bertambah, kedua, memudahkan jalan kita menuju Surga, ketiga, memperkuat dalam agama dan masih banyak lainnya. Maka dari itu nak, bapak ingin kamu menjadi anak yang berilmu, nak .” ucap bapak seolah-olah penceramah di saluran televisi.
“Baiklah pak, aku akan mengikuti semua saran yang bapak berikan, terima kasih bapak, telah mengingatkan aku apa pentingnya menuntut ilmu, Aku sayang bapak.” jawabku dengan senyum simpul.
“Bapak juga sayang kamu nak, kamu harus tetap semangat belajar.” ucap bapak seraya mengelus rambut kepalaku yang berbalut kerudung lesu.
Malam pun tiba dengan jutaan bintang yang menemani bulan bersinar dengan ditemani nyanyian para jangkrik yang menyelami kesunyian malam, aku dan bapak telah masuk ke dalam kamar masing-masing. Aku menuju ke kamar bapak dan mematung di daun pintu kamarnya, aku melihatnya sudah terlelap tidur hingga lelah meliputi dirinya, mata ku pun kembali berkaca-kaca melihat hal tersebut. Tidak lama setelah memandanginya, waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam, aku harus bergegas tidur karena besok pagi aku harus kembali bersekolah. Sebelum tidur, aku sambil merenungi perkataan bapak di sore hari itu.
Kukuruyuk.. nyanyian ayam beroga yang membangunkan semua insan yang mendengarnya. Setelah merenungi nasihat bapak, aku menjalani rutinitasku berbeda dari biasanya, semangat yang sangat menggebu-gebu. Setelah selesai merapihkan segala keperluanku untuk menuntut ilmu ke Sekolah. Tepat pukul tujuh pagi, aku menghampiri bapak yang sedang menyiapkan barang bawaan dagangannya, aku mencium tangan bapak. Aku dan bapak berbarengan berangkat. Aku ke Sekolah dan bapak pergi ke Pasar untuk memulai berdagang.
Semenjak percakapan sore hari itu, setiap kali pulang Sekolah aku selalu pergi ke tempat bapak mencari nafkah, untuk membantu rutinitas bapak di Pasar seperti, melayani pembeli, mengantar belanjaan pembeli hingga membersihkan tempat dagangan bapak. Meskipun sebenarnya bapak selalu menolak aku membantunya, namun aku selalu tidak menghiraukan hal tersebut.
Lima belas tahun kemudian, aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sukses, aku lulus universitas dengan Ipk 4,00, dan sudah banyak cabang perusahaanku yang tersebar di luar maupun dalam negeri. Sungguh, nikmat tuhan yang luar biasa, syukur selalu aku haturkan dan semua ini tidaklah indah tanpa bapakku.
Dialah bapakku, sang malaikat di dunia. Berkorban seluruh jiwa dan raganya demi aku. Bapak, seperti guru bagiku yang tidak pernah lelah memberikan nasihat kepadaku. Terimakasih bapak, tenaga dan keringat yang engkau keluarkan setiap harinya, demi memberikan sesuap nasi kepada anakmu. Jasamu tidak akan pernah terbayarkan oleh apapun. Semoga di Akhirat, bapak mendapat ganjaran setimpal dari Allah SWT dan dapat bertemu dengan ibu di Surganya, Aamiin ya robbal ‘alamiin.

Comments